Syukur
Pagi ini 18 November 2009 jam 04.30 WIB kita masih bisa membuka mata kita. Sebuah anugrah dari yang kuasa karena kita berarti masih diberikan kesempatan untuk berbuat, berkarya, berusaha dan beribadah. Di tengah-tengah hirup pikuk kehidupan yang serba semrawut ini, dan kata orang gonjang-ganjing, satu hal yang perlu kita lakukan adalah mensyukuri apa yang telah kita miliki. Karena segala sesuatu yang kita miliki akan kembali kepada-Nya.
Nafas yang kita hirup hari ini adalah nikmat dari-Nya, kebanyakan dari kita hal ini tak pernah kita perhatikan bahkan sering kita mengabaikan akan hal kita menghirup udara. Coba kita bayangkan seandainya dalam waktu 5 menit saja kita tidak dapat bernafas, kemungkinan yang terkecil adalah kita pingsan dan yang terburuk adalah kita meninggal.
Coba kita perhatikan di rumah-rumah sakit, orang-orang yang sudah payah tidak dapat menghirup udara, mereka harus membeli udara itupun tidak dapat membantunya untuk dapat berbuat apalagi beraktivitas seperti kita ketika kita dalam keadaan sehat dan bugar. Mungkin kita akan merasakan nikmat bernafas ini setelah kita merasakan sakitnya tidak dapat bernafas (kena penyakit asma).
Semoga dengan merenungkan hal yang kecil ini kita dapat mensyukuri apa yang telah kita rasakan dan kita peroleh pada hari ini dan yang akan datang. (www.duniatanpabatasriyan.blogspot.com)
Selasa, 17 November 2009
Puisi Baru
PUISI BARU
A. MACAM-MACAM PUISI BARU
1. DISTIKON
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
2. TERZINA
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
3. QUATRAIN
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
4. QUINT
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. SEXTET
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
6. SEPTIMA
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. STANZA ( OCTAV )
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. SONETA
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.
CIRI – CIRI SONETA :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
B. FUNGSI SONETA
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan
C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.
D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan.
2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
NO
SONETA
PANTUN
1 Puisi dari Italia Puisi Indonesia Asli
2 Terdiri 14 baris dalam satu bait Terdiri 4 baris dalam satu bait
3 Rima bebas Rima a – b – a – b
PEMBAGIAN BENTUK SASTRA
A. PUISI
Puisi adalah karangan yang terikat.
Pengikatnya adalah :
1. Jumlah baris dalam tiap-tiap bait
2. Jumlah suku kata dalam tiap baris
3. Irama
4. Sajak
Bahasa yang digunakan dalam puisi pada umumnya bersifat padat dan pekat.
Puisi sering disebut madah atau sanjak.
Puisi dibagi atas 4 macam, yaitu :
1. Puisi Lama
2. Puisi Baru
3. Puisi Modern
4. Puisi Kontemporer
Puisi Kontemporer adalah puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir yang memiliki ciri-ciri berberda dengan puisi konvensional.
Macam-macam puisi Kontemporer :
Puisi Mantra
Puisi yang menggunakan bentuk-bentuk mantra.
Puisi Mbeling
Ciri-ciri puisi mbeling adalah :
Kelakar
Kritik sosial
Kritik terhadap dominasi lama dalam perekonomian
Ejekan terhadap penyair yang sungguh-sungguh dalam menghadapi puisi.
Puisi Konkret
Puisi konkret adalah puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar.
Unsur-unsur yang menonjol dalam puisi kontemporer :
a. Unsur bunyi
Dengan menggunakan rima dan repetisi
b. Tipografi
Susunan baris atau bait puisi serta cara penulisan huruf
c. Enjabemen
Pemotongan kalimat atau frasa pada akhir baris dan potongan lainnya diletakkan kembali pada baris berikutnya
d. Parodi atau unsur kelakar
Contoh :
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
V
!VIVA PANCASILA
(Jeihan)
B. PROSA
Prosa adalah karangan bebas, tidak terikat oleh syarat-syarat selain oleh susunan bahasa dan tata bahasanya.
Prosa terbagi atas :
1. Prosa Lama
2. Prosa Baru
C. PROSA LIRIK
Prosa lirik adalah karangan yang tidak terikat oleh syarat-syarat jumlah baris, jumlah suku kata dan sajak, tetapi sangat mementingkan irama.
Jadi prosa lirik merupakan bentuk peralihan dari puisi ke prosa atau sebaliknya prosa lirik sering disebut bahasa berirama.
A. MACAM-MACAM PUISI BARU
1. DISTIKON
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
2. TERZINA
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
3. QUATRAIN
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
4. QUINT
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. SEXTET
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
6. SEPTIMA
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. STANZA ( OCTAV )
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. SONETA
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.
CIRI – CIRI SONETA :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
B. FUNGSI SONETA
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan
C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.
D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan.
2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
NO
SONETA
PANTUN
1 Puisi dari Italia Puisi Indonesia Asli
2 Terdiri 14 baris dalam satu bait Terdiri 4 baris dalam satu bait
3 Rima bebas Rima a – b – a – b
PEMBAGIAN BENTUK SASTRA
A. PUISI
Puisi adalah karangan yang terikat.
Pengikatnya adalah :
1. Jumlah baris dalam tiap-tiap bait
2. Jumlah suku kata dalam tiap baris
3. Irama
4. Sajak
Bahasa yang digunakan dalam puisi pada umumnya bersifat padat dan pekat.
Puisi sering disebut madah atau sanjak.
Puisi dibagi atas 4 macam, yaitu :
1. Puisi Lama
2. Puisi Baru
3. Puisi Modern
4. Puisi Kontemporer
Puisi Kontemporer adalah puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir yang memiliki ciri-ciri berberda dengan puisi konvensional.
Macam-macam puisi Kontemporer :
Puisi Mantra
Puisi yang menggunakan bentuk-bentuk mantra.
Puisi Mbeling
Ciri-ciri puisi mbeling adalah :
Kelakar
Kritik sosial
Kritik terhadap dominasi lama dalam perekonomian
Ejekan terhadap penyair yang sungguh-sungguh dalam menghadapi puisi.
Puisi Konkret
Puisi konkret adalah puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar.
Unsur-unsur yang menonjol dalam puisi kontemporer :
a. Unsur bunyi
Dengan menggunakan rima dan repetisi
b. Tipografi
Susunan baris atau bait puisi serta cara penulisan huruf
c. Enjabemen
Pemotongan kalimat atau frasa pada akhir baris dan potongan lainnya diletakkan kembali pada baris berikutnya
d. Parodi atau unsur kelakar
Contoh :
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
V
!VIVA PANCASILA
(Jeihan)
B. PROSA
Prosa adalah karangan bebas, tidak terikat oleh syarat-syarat selain oleh susunan bahasa dan tata bahasanya.
Prosa terbagi atas :
1. Prosa Lama
2. Prosa Baru
C. PROSA LIRIK
Prosa lirik adalah karangan yang tidak terikat oleh syarat-syarat jumlah baris, jumlah suku kata dan sajak, tetapi sangat mementingkan irama.
Jadi prosa lirik merupakan bentuk peralihan dari puisi ke prosa atau sebaliknya prosa lirik sering disebut bahasa berirama.
Makalah Tentang Puisi
PUISI BARU
A. MACAM-MACAM PUISI BARU
1. DISTIKON
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
2. TERZINA
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
3. QUATRAIN
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
4. QUINT
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. SEXTET
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
6. SEPTIMA
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. STANZA ( OCTAV )
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. SONETA
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan
abad ke-13 di kota Florance.
CIRI – CIRI SONETA :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut
octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang
disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang
dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
B. FUNGSI SONETA
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan
C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.
D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan.
2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
NO
SONETA
PANTUN
1 Puisi dari Italia Puisi Indonesia Asli
2 Terdiri 14 baris dalam satu bait Terdiri 4 baris dalam satu bait
3 Rima bebas Rima a – b – a – b
PEMBAGIAN BENTUK SASTRA
A. PUISI
Puisi adalah karangan yang terikat.
Pengikatnya adalah :
1. Jumlah baris dalam tiap-tiap bait
2. Jumlah suku kata dalam tiap baris
3. Irama
4. Sajak
Bahasa yang digunakan dalam puisi pada umumnya bersifat padat dan pekat.
Puisi sering disebut madah atau sanjak.
Puisi dibagi atas 4 macam, yaitu :
1. Puisi Lama
2. Puisi Baru
3. Puisi Modern
4. Puisi Kontemporer
Puisi Kontemporer adalah puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir yang memiliki ciri-ciri berberda dengan puisi konvensional.
Macam-macam puisi Kontemporer :
Puisi Mantra
Puisi yang menggunakan bentuk-bentuk mantra.
Puisi Mbeling
Ciri-ciri puisi mbeling adalah :
Kelakar
Kritik sosial
Kritik terhadap dominasi lama dalam perekonomian
Ejekan terhadap penyair yang sungguh-sungguh dalam menghadapi puisi.
Puisi Konkret
Puisi konkret adalah puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar.
Unsur-unsur yang menonjol dalam puisi kontemporer :
a. Unsur bunyi
Dengan menggunakan rima dan repetisi
b. Tipografi
Susunan baris atau bait puisi serta cara penulisan huruf
c. Enjabemen
Pemotongan kalimat atau frasa pada akhir baris dan potongan lainnya diletakkan kembali pada baris berikutnya
d. Parodi atau unsur kelakar
Contoh :
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
V
!VIVA PANCASILA
(Jeihan)
B. PROSA
Prosa adalah karangan bebas, tidak terikat oleh syarat-syarat selain oleh susunan bahasa dan tata bahasanya.
Prosa terbagi atas :
1. Prosa Lama
2. Prosa Baru
C. PROSA LIRIK
Prosa lirik adalah karangan yang tidak terikat oleh syarat-syarat jumlah baris, jumlah suku kata dan sajak, tetapi sangat mementingkan irama.
Jadi prosa lirik merupakan bentuk peralihan dari puisi ke prosa atau sebaliknya prosa lirik sering disebut bahasa berirama.
A. MACAM-MACAM PUISI BARU
1. DISTIKON
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
2. TERZINA
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
3. QUATRAIN
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
4. QUINT
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. SEXTET
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
6. SEPTIMA
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. STANZA ( OCTAV )
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. SONETA
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan
abad ke-13 di kota Florance.
CIRI – CIRI SONETA :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut
octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang
disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang
dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
B. FUNGSI SONETA
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan
C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.
D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan.
2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
NO
SONETA
PANTUN
1 Puisi dari Italia Puisi Indonesia Asli
2 Terdiri 14 baris dalam satu bait Terdiri 4 baris dalam satu bait
3 Rima bebas Rima a – b – a – b
PEMBAGIAN BENTUK SASTRA
A. PUISI
Puisi adalah karangan yang terikat.
Pengikatnya adalah :
1. Jumlah baris dalam tiap-tiap bait
2. Jumlah suku kata dalam tiap baris
3. Irama
4. Sajak
Bahasa yang digunakan dalam puisi pada umumnya bersifat padat dan pekat.
Puisi sering disebut madah atau sanjak.
Puisi dibagi atas 4 macam, yaitu :
1. Puisi Lama
2. Puisi Baru
3. Puisi Modern
4. Puisi Kontemporer
Puisi Kontemporer adalah puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir yang memiliki ciri-ciri berberda dengan puisi konvensional.
Macam-macam puisi Kontemporer :
Puisi Mantra
Puisi yang menggunakan bentuk-bentuk mantra.
Puisi Mbeling
Ciri-ciri puisi mbeling adalah :
Kelakar
Kritik sosial
Kritik terhadap dominasi lama dalam perekonomian
Ejekan terhadap penyair yang sungguh-sungguh dalam menghadapi puisi.
Puisi Konkret
Puisi konkret adalah puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar.
Unsur-unsur yang menonjol dalam puisi kontemporer :
a. Unsur bunyi
Dengan menggunakan rima dan repetisi
b. Tipografi
Susunan baris atau bait puisi serta cara penulisan huruf
c. Enjabemen
Pemotongan kalimat atau frasa pada akhir baris dan potongan lainnya diletakkan kembali pada baris berikutnya
d. Parodi atau unsur kelakar
Contoh :
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVV
V
!VIVA PANCASILA
(Jeihan)
B. PROSA
Prosa adalah karangan bebas, tidak terikat oleh syarat-syarat selain oleh susunan bahasa dan tata bahasanya.
Prosa terbagi atas :
1. Prosa Lama
2. Prosa Baru
C. PROSA LIRIK
Prosa lirik adalah karangan yang tidak terikat oleh syarat-syarat jumlah baris, jumlah suku kata dan sajak, tetapi sangat mementingkan irama.
Jadi prosa lirik merupakan bentuk peralihan dari puisi ke prosa atau sebaliknya prosa lirik sering disebut bahasa berirama.
Duniaku

Inilah dunia kita yang kita pijak, terdiri dari daratan dan lautan. Bumi kita ini tampak begitu memesona bahkan banyak orang yang terpikat tuk memilikinya. Kita wajib untuk merawatnya dengan tangan kita, jangan biarkan bumi kita ternoda oleh orang yang tak bertanggung jawab.
Akhir-akhir ini mungkin kita telah merasakan sendiri, bencana menimpa kita. Dimana-mana terjadi bencana. Dari yang kebakaran, hujan, badai, banjir bahkan gempa bumi yang disertai dengan sunami kita telah merasakannya. Kesemuanya itu adalah akibat dari ulah kita sebagai manusia yang kurang pandai untuk bersyukur. Kurang pandai untuk menjaga dengan pemberian dari yang kuasa. Mari kita wujudkan dunia kita yang kita cintai ini dengan merawat dan menjaganya dari ketidak tauan kita ini. Wujudkan bumi yang asri dan terjaga, Mari kita jaga.
Akhir-akhir ini mungkin kita telah merasakan sendiri, bencana menimpa kita. Dimana-mana terjadi bencana. Dari yang kebakaran, hujan, badai, banjir bahkan gempa bumi yang disertai dengan sunami kita telah merasakannya. Kesemuanya itu adalah akibat dari ulah kita sebagai manusia yang kurang pandai untuk bersyukur. Kurang pandai untuk menjaga dengan pemberian dari yang kuasa. Mari kita wujudkan dunia kita yang kita cintai ini dengan merawat dan menjaganya dari ketidak tauan kita ini. Wujudkan bumi yang asri dan terjaga, Mari kita jaga.
Teman-Teman
Dipelatihan ini (Pelatihan TIK Bagi Pendidik Wisma Semergo_Bandar Lampung) pelayanan kamar penginapan kurang kurang memadai dan kurang nyaman. Karena fasilitasnya kurang lengkap.
Nasehat
Orang yang paling mulia adalah orang yang tau akan dirinya sendiri, siapa dia, bagaimana dia, dan akan kemana ia. Kita di dunia ini hanyalah seorang hamba, tugas seorang hamba hanyalah mengabdi kepada Tuhannya, bukan malah menentang pada Tuhannya.
Perhatikan segala kejadian di dunia ini hanyalah bersifat sementara, yang tadinya ganteng menjadi tidak ganteng, muda menjadi tua, sehat menjadi sakit, kuat menjadi lemah, dan segudang hal yang ada di dunia ini akan berubah dengan berjalannya sang waktu. Untuk itu kita ini hanyalah sebutir debu di dunia ini, namun jika kita mau jadi debu yang berarti walaupun debu bisa digunakan untuk penyuci.
Perhatikan segala kejadian di dunia ini hanyalah bersifat sementara, yang tadinya ganteng menjadi tidak ganteng, muda menjadi tua, sehat menjadi sakit, kuat menjadi lemah, dan segudang hal yang ada di dunia ini akan berubah dengan berjalannya sang waktu. Untuk itu kita ini hanyalah sebutir debu di dunia ini, namun jika kita mau jadi debu yang berarti walaupun debu bisa digunakan untuk penyuci.
Pelatihan TIK Bagi Pendidik
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)